Rabu, 23 April 2014
Senin, 14 April 2014
post pertama
“Menuju kemakmuran Adalah tugas
bersama”
Zulkifli (60800113055)
Zulkifli (60800113055)
Indonesia
sebagai negara besar nan kaya, sepatutnya menjadi negara yang menjunjung aspek
moral, kenapa? Perlu kita ketahui negeri ini memiliki populasi terbesar yang
menganut agama Islam, namun sekarang, karena majunya teknologi terutama media
komunikasi, via komunikasi yang memiliki banyak kelemahan membuat anak-anak
bangsa menjadi terpuruk.
Sebagai calon perencanaan wilayah dan kota
(PWK) ini merupakan tantangan bersama dan tentunya dilakukan secara bersama,
berbagai asapek membangunnya. Setau saya perencanaan wilayah dan kota adalah
ilmu yang mempertimbangkan kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan
datang dengan melihat masa dulu dan sekarang yang dilakukan secara bertahap
untuk menyelesaikan masalah menuju masalah lainya. Hidup tanpa masalah tentunya
bukan hidup, namun mati. Yaa, dalam perencanaan seorang planner tentunya
mempertimbang kan segala aspek, bagaimana kondisi Demografi sutu wilayah,
geologi, ekonomi, pendidikan, budaya, dan aspek kehidupan lainnya.
Indoneia
adalah negeri beribu budaya, namun sekarang apakah patut dikatakan seperti itu
jika penerus bangsa ini tak lagi memakai pakaian sopan khas negeri ini, namun
pakaian yang tak pantas bagi orang-oarang timur, ini adalah salah satu contoh
negara kita tak bisa menetuukan jati dirinya.
Perubahan
tetaplah perubahan, namun kondisi
terpuruk tentu tak pantas tuk dibiarkan saja, sebagai seorang perencana, mari
kita berpangku tangan mengatasi kesemrautan kota dan aspek nin fisiknya, di
atas saya telah memaparkan aspek-aspek non fisik perencanaan itu, yaa
manusianya sendiri, kota yang teratur nan indah tak akan indah jika di isi oleh
manusia terpuruk.
Pentingnya
aspek non fisik dalam perencanaan
merupakan hal hirearki, dalam penyusunan perencanaan, tak sepantasnya seorang
perencana hanya membuatnya bersama pemerintah saja namun ada sentuhan yang
lebih terhadap masyarakat sendiri yang akan menetap pada wilayah yang akan
direncanakan, di sini perlu adanya pertimbangan-pertimbangan yang sangat ulung,
aspek budaya dan khas suatu daeerah tak sepatutnya dihilangkan, ini adaah jati
diri daerah tersebut. Hal ini akan membangun persaudaraan antara masyarakat itu
sendiri maupun pemerintah.
Sekarang,
sebagian besar masyarakat mengatakan bahwa pedagang kaki lima adalah sampah
kota, kumuh dan kotor terutama merusak estetika kota. Wah ini sungguh tak adil
jika mengatakan demikin, megapa ? bukan pedagangaki lima yang salah, bukan
pemerintah yang salah, apalagi kita, saling menyalahkan akan menimbulkan
kesenjangan masyarakat, namun cara kita yang tak bijak melihat suatu hal,
melihat dengan satu mata memenga salah, namunjika kita memandang hal itu
positif, sungguh hal itu sangat bermanfaat. Bertemunya pedangan dan pembeli
merupakan interaksi antara masyarakat, baik itu dari kalangan bawah maupun
atas. Ini akan menimbulakan interaksi yang sangat di butuhkan, di jepang, kaki
lima adalah hal yang sangat dipopulerkan karena pedagang di sana bekeliaran di
jalan yang telah diatur lintasannya, dapat dikatakan bahwa pedagang kaki lima
adalah penghubung masyarakat sebagai media interaksi, ngara maju seperti jepang
sepatutnya menjadi contoh negar-negar berkembang seperti negeri ini.
Nah,
perencana kan merencanakan suatu wilayah memng tak semudah membalikkan telapak
tangan, segal aspek harus dipertimbangkan. Zaman yang modern ini adalah tantangan baru bagi seoramg
perencana. Dengan mengacuh pada aspek non fisik dengan menata fisiknya tentu
sangat bijak. “man proposes, God disposes” perencana tetaplah perencana, namun
tuhan kan menentukan, hargailah keputusan tuhan, dengan usaha maupun rencana
menuju kemakmuran.
Langganan:
Komentar (Atom)
